Ya الله tuhan ku....akulah hamba yang paling fakir dalam segala kekayaan ku ini, bagai mana tidak akan merasa fakir dalam kefakiran ku ini?
Ya الله akulah hamba yang paling bodoh dalam ilmu pengetahuan ku sendiri, bagaimana aku tidak merasa lebih bodoh dalam hal sesuatu dan aku sendiri tidak mengetahuinya?
Tidak lah ada seorang hamba yangbmengakui kemiskinannya dan kebodohannya dalam ber do'a, kecuali الله akan berkata kepada para malaikatnya: " andaikan tidak karna mereka tidak mampu langsung menangkap firman ku[الله] tentu aku langsung menjawab do'a mereka dengan labbaika..."
Ya الله tuhanku....sesungguhnya dalam perubahan-perubahan aturanmu dan cepatnya takdirmu, keduanya mampu mencegah para hambamu yang arif untuk tenang dan tidak putus meng harap lantaran ada musibah
Para hukamak [arifin ] tidak akan merasa tenang mereka akan tenang bila menerima karunia rahmatالله. Tanpa karunianya , segala sesuatu didunia akan lenyap dan tidak akan kekal. Demikian juga ujian, dengan adanya musibah yang menimpa mereka, mereka tidak putus harapan kepada kepada الله
Ya الله yatuhanku.... kerendahan, kekurangan dan kebodohan adalah sifat yang layak dari diriku, sedangkan darimu selalu yang mulia dan besar,
Ya الله .... sesungguhnya engkau telah menyebutdirimu memiliki sifat yang sayang kepada aku sebelum adanya kelemahan ini, lalu apakah sekarang engkau menolak diriku dari dua sifat mu itu setelah melihat banyak kelemahan dan kebutuhanku padamu
Ya الله .....bilamana kelihatan ada amal yang baik dari aku, itu semata-mata lantaran karuniamu, dan engkau berhak menuntutku, sebaliknya bila ada kejahatan yang ku kerjakan, maka semata-mata itu lantaran keadilanmu, engkau berhak menuntutku atas kejahatan yang aku kerjakan.
Ya الله..... engkau telah mengembalikan aku untuk mengurusi diriku sendiri, padahal engkau telah menjatah hidupku, lalu bagaimana aku harus merasa terhina, padahal engkau satu-satunya yang menolongku.... dan bagaimana aku merasa kecewa padahal engkau terus menyayangi aku...
Lihatlah aku ya الله...aku mendekatimu lantaran kemiskinanku[butuhku] epadamu, lalu bagaimana mungkin aku memakai perantara untuk sampai kepadamu dengan sesuatu yang tidak bisa sampai kepadamu, lalu bagaimana aku harus menyampaikan keadaanku kepadamu, padahal diriku ini tidak ada yang rahasia bagimu, bagaimana aku menjelaskan kepadamu mengenai prihalku, padahal aku menjelaskan hal tersebut dengan kata-kata[kemampuan komunikasi] darimu dan kembali kepadamu jua, atau bagaimana aku merasa kecewa denganmu, padahal telah meng hadap kepadamu, dan bagaimana tidak menjadi baik segala keadaanku, dimana keadaan itu dari dirimu dan kembali kepadamu jua...
Ya الله....alangkah luas kelembutanmu kepadaku padahal aku ini sangat dungu, Ya الله...alangkah besar rahmatmu, padahal sangat buruk sekali perbuatanku...
Ya الله...alangkah dekatnya dirimu kepadaku, dan alangkah jauhnya diriku kepadamu...
Ya الله...alangkah cintanya dirimu kepadau, apakah hal itu yang meng hijab aku dan dirimu....
Ya الله....aku sekarang telah paham dengan keadaan ,perbuatan, dan pergantian-pergantian waktu, semua itu menunjukkan ekuasaanmu kepadaku, sehingga aku tidak lupa sedikitpun kepadamu memandang segala sesuatu...
Ya الله... setiap mulutku terbungkam karena dosa-dosa, saat itulah mulutu bisa terbuka setelah melihat kemurahanmu yang tidak terbatas, setiap kali aku putus asa mengharap rahmatmu karena rendahdiriku, maka saat itupun aku terbuka ketika melihat berbagai karuniamu....
Ya الله...aku diam dan berlumuran dosa, aku malu dan putus harapan karena dosa-dosaku, namun setelah memikirkan betapa luasnya kemurahanmu , jadinya aku bersemangat lagi....
Ya الله....setiap manusia dalam kebaikannya disitu pasti masih ada kekurangannya, lalu apakah setiap kekurangan bukan suatu kesalahan dan dosa? Dansetiap manusia memiliki ilmu dan pengetahuan sebenarnya hanya pengakuan belaka, lalu apakah pengakuan itu tidak suatu epalsuan?
Hanya الله yang memberi ilmu dan pengetahuan, dan manusia hanya mengakui miliknya, padahal ilmu adalah milik الله jadi pengakuan seorang hamba sebenarnya palsu, tidaknyata didunia, dan yang nyata dan kekal hanyalah الله....
Semuga الله menjadikan kita orang-orang yang bergembira bersama الله, serta menjadikan orang-orang yang ridlo dengan apa-apa yang diberikan الله, semoga الله menjadikan kita golongan orang-orang yang mengergi bahwa segala sesuatu dari الله, dan janganlah mdnjadikan kami golongan orang-orang yang lalai, semuga الله menjadikan kami teyap diatas jalan orang-orang muttaqin lantaran karunia dan kemurahan الله...
ا
Dititah podo jatah bedo
Sabtu, 08 Oktober 2016
Jumat, 07 Oktober 2016
Rabu, 21 September 2016
Maksiat ko bangga
Manusia memang tidak lepas dari salah dan lupa. Opsi terbaik saat kita khilaf adalah sesegera mungkin bertobat, bersungguh-sungguh menyesali dosa kita, tidak mengulanginya lagi dan banyak beramal saleh dengan harapan agar amal saleh tersebut dapat menghapus dosa yang pernah kita perbuat.
But, the problem is, kadangkala, ada seseorang yang dengan bangganya menceritakan kelamnya masa lalu atau aib yang pernah ia lakukan.
Mungkin kita pernah mendengar seseorang bercerita–dengan santai dan cekakak-cekikik– tentang list aib-aibnya, seperti kalimat di bawah ini:
“Saya pernah pacaran dengan si A dan si B lho, bla… bla… bla”. “Gue dulu suka minum miras, merk A dan merk B mah sudah jadi langganan Gue…”
Hei… bukankah pacaran dan mabuk miras itu dosa? Lantas kenapa mesti diceritakan dengan penuh kebanggaan? Bukankah dosa-dosa itu semestinya disimpan rapat, tak usah ada yang tahu. Jika perlu, simpan dosa-dosamu dalam brankas dan buang ke laut. Aneh bukan, bermaksiat koq bangga.
Ada aturan yang mesti kita pahami, bahwa dosa adalah hal yang memalukan jadi tak perlu ada “press conference”. Segatal apapun mulut kita ingin mengumbar dosa masa lalu, it’s enough, tidak layak kita ceritakan pada orang lain.
Banyak fakta menunjukkan si fulan melakukan dosa karena terinspirasi dosa orang lain, biasanya anak-anak kos yang gemar berbagi pengalaman. Misalnya, si A suka cerita pada si B tentang betapa serunya berpacaran, enaknya nyabu, dll dan lama-lama si B juga ingin mencoba pacaran dan nyabu, nah lho?
Tanpa kita sadari kita telah menjerumuskan orang lain ke jurang dosa gara-gara kita hiasi cerita dosa kita dengan kata-kata nan indah, sehingga bermaksiat jadi terlihat keren bin seru, naudzubillahi min dzalik.
Bila kita pernah khilaf, boleh saja kita menceritakannya. Tapi harus pada orang yang berkompeten, misal pada ustaz atau psikolog, semua dalam rangka mencari satu hal yakni solusi, sekali lagi solusi.
Jika kita telah bertobat, maka simpanlah kisah kelammu baik-baik, jika engkau ingin berbagi cerita bahwa engkau pernah salah dan agar orang lain mengambil ibroh (hikmah) dari ceritamu, maka ceritakan secara umum atau garis besarnya saja tanpa harus deti.
Misalnya, ”Saya juga pernah tergelincir, tapi Alhamdulillah Allah telah menyelamatkan saya”, that’s all. Jika ada teman yang iseng bertanya tentang masa lalumu seperti kalimat ini “Idih, gimana ceritamu sama si A mantanmu dulu, masih ingat nda?”, tak usahlah diperpanjang, cukup katakan “Itu masa lalu kawan, aku telah bertobat dan telah membuka lembaran baru”.
Cukuplah hadis dari Abu Hurairoh bahwa Rasululloh bersabda:
“Semua ummatku dimaafkan (kesalahannya) kecuali Mujahirin (orang yang memberitahukan kemaksiatannya pada orang lain). Dan sesungguhnya termasuk Al-majanah bila orang itu pada malam hari berbuat kejahatan, kemudian pada waktu paginya dia berkata, ‘Wahai fulan, tadi malam aku berbuat demikian dan demikian’ padahal malam harinya Robb-nya telah menutupi (aibnya tersebut), namun pagi hari dia sendiri yang membuka apa yang telah ditutup oleh Alloh,” (HR.Bukhori 5/3254).
Bila Allah telah menutupi aib kita, maka tak perlu kita memberitahukan pada orang-orang. Bukankah malu adalah sebagian dari tanda orang beriman? So the points are; bertobatlah dahulu saat kita tahu bahwa kita berdosa, ceritakan saja kesalahan kita pada orang yang mumpuni agar kita mendapat bimbingan untuk menapaki jalan hidup yang lebih baik dan jika kita “sekedar” cerita pada orang lain tentang aib kita dan tidak akan ada manfaat bagi yang mendengarnya, tampaknya kita lebih baik diam.
Berkatalah yang baik atau diam. Jangan sampai ada yang mencontoh dosa kita hanya karena kita telah bercerita pada orang yang salah dan dengan cara yang salah pula.
Bermaksiat di masa lalu? Usai sudah, jangan berbangga atas kemaksiatan kita, apalagi jika kita telah bertaubat dan Allah telah menutupi aib kita dari orang-orang sedunia.
Langganan:
Postingan (Atom)